Kamis, 06 September 2012

APAKAH JODOH DITANGAN TUHAN ??

APAKAH JODOH DITANGAN TUHAN ??
“Jodoh ditangan Tuhan” merupakan ungkapan umum dan diakui dikalangan masyarakat luas. Namun jika dikaji lebih dalam, benarkah secara otoriter Tuhan sudah mentakdirkan jodoh seseorang? Mungkin dapat dipahami bahwa kalimat “jodoh ditangan Tuhan” merupakan ungkapan warisan atau ucapan latah yang turun menurun diwariskan sebagai tradisi yang sudah sangat membudaya ditengah masyarakat. Allah yang adil dan berkuasa bukanlah tipe pribadi yang memaksakan kehendakNya dengan sewenang-wenang menggunakan otoritasnya untuk memaksakan seseorang mengikuti perintahNya. Jika persoalan jodoh Ia tetapkan menurut kemauanNya sendiri maka dapat dipastikan manusia kehilangan hak istimewanya sebagai pribadi yang memiliki kehendak bebas.
Perlu menjadi renungan banyak orang-orang atheis yang menikah diluar Tuhan hidup mereka baik-baik, perkawinan mereka cocok, turun temurun bahkan orang-orang punya ajaran sesat, bidat dan ngawur menikah tanpa campur tangan Tuhan mereka bisa membangun rumah tangga mereka baik-baik. Apakah jodoh mereka di tangan Tuhan? bukan sama sekali jodoh mereka adalah pilihan mereka sendiri tanpa doa dan sederetan ritual keagamaan bahkan diantaranya tidak ada yang memiliki kepekaan sama sekali!
Dapat dipastikan bahwa Tuhan tidak memberangus hak azasi manusia dari sejak zaman Adam sampai kapanpun. Manusia bukanlah robot yang bisa digerakkan dengan remote kontrol tetapi sebagai makluk ciptaan yang paling mulia bahkan memiliki posisi hampir seperti Allah sendiri. Sekalipun Allah mengetahui babak terakhir dari kisah hidup seseorang tetapi Ia tidak menggerakkan orang tersebut seperti seorang dalang yang memainkan wayang kulitnya. Allah bukanlah suatu pribadi yang memiliki ambisi memaksakan kehendakNya agar semua makluk menuruti kemauanNya. Jika memang Allah mentakdirkan jodoh manusia, maka kita perlu pertanyakan model apakah Dia?
Kehendak bebas manusia bukan saja menentukan pilihan yang baik dan yang jahat tetapi juga menyangkut masalah jodoh sebagai teman hidup. Manusia dapat memilih yang terbaik dan sempurna menurut anggapannya sendiri sekalipun bukan menurut standarnya Tuhan. Manusia memiliki kehendak bebas memilih siapapun, dan terkadang memiliki kecenderungan memiliki lebih dari satu pilihan. Setiap pilihan atau keputusan mengandung resiko positip dan negatif. Jika manusia salah memilih jodoh maka ia harus berani menanggung akibatnya. Sebaliknya pilihan yang terbaik yagn sesuai dengan patronnya Allah akan menerima kebahagiaan di bumi seperti di dalam sorga!
Namun harus diakui bahwa Tuhan menentukan diriNya sendiri sebagai kekasih jiwa orang percaya. Setiap anak Tuhan sudah dijodohkan dengan kekasih jiwanya dengan Kristus Yesus dalam perkawinan Anak domba Allah (2 Kor 11:2). Tidak ada perkawinan dibumi yang bahagia dibanding perkawinan Anak domba Allah. Sorga tidak ada sangkut pautnya dengan jodoh dibumi tetapi jodoh yang Allah sudah tentukan yakni Anak Domba Allah sendiri. Sebab tidak mungkin di sorga nanti seseorang masih memiliki predikat suami untuk istrinya disorga sebab manusia sudah hidup seperti malaikat di sorga. Markus 12:25 menyatakan bawah “Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak di kawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga”.
Dapat dipastikan tiidak akan pernah ada nama suami istri dalam deretan bangku sorga sebab semua nama sudah dihapus dan masing-masing mendapat nama baru yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali orang yang menerima nama tersebut dan Tuhan sendiri. Wahyu 2:17 menyatakan siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya." (bdk. Wah 19:12). Walaupun sorga tidak tidak ada hubungannya dengan jodoh, tetapi sorga juga akan terusik dengan ekses dari perkawinan yang gagal jika seseorang melibatkan sorga dalam menentukan jodohnya maka ia harus menyerahkan hak pilihnya kepada Tuhan sehingga perkawinannya di bumi identik dengan perkawinan Anak Domba Allah.

DESAIN ALLAH
Walaupun jodoh bukanlah ditangan Tuhan tetapi Ia ikut campur tangan untuk memimpin manusia dalam menentukan pilihan yang terbaik. Jika Tuhan campur tangan dalam persoalan yang satu ini maka Ia memiliki kepentingan khusus terhadap orang pilihanNya. Satu-satunya orang yang jodohnya sudah ditentukan oleh Tuhan sendiri adalah Adam selain itu tidak ada. Ketika Allah membawa seorang wanita kepada Adam maka tidak ada pilihan lain, Adam tidak dapat menolak pemberian Allah. Adam tidak perlu ditanya model apakah wanita yang menurut seleranya.
Tanpa “pesanan” model wanita yang diingini oleh Adam Allah menciptakan jodoh terbaik. Adam tidak tahu dari mana jodohnya tersebut sebelum Tuhan memberitahukan kepadanya darimana ia berasal sebab ketika wanita pertama didisain oleh Allah, Adam berada dalam posisi tidur nyenyak. Kejadian 2:21-22 menyatakan Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawaNya kepada manusia itu. Nyenyak dalam bahasa Ibrinya tardemah dibaca tar-day-maw' yang memiliki arti tidak sadarkan diri, King James menterjemahkan dengan kata deep sleep.
Setiap orang harus mencari jodoh dengan caranya masing-masing. Harus dimengerti tidak ada orang yang dibisikkan oleh Tuhan nama dan alamat calon jodohnya, kecuali orang-orang tertentu yang memang ditentukan untuk itu. Mereka adalah orang-orang yang sungguh-sungguh berada dalam rel nya Tuhan yaitu orang yang berjalan bersama Roh Kudus, peka dan berjalan dalam hadiratNya senantiasa. Hal ini dikaitkan dengan rencana khusus Tuhan atas seseorang.
Alkitab mencatat bahwa Tuhan menentukan jodoh untuk Hosea. Hosea 1:2 menyatakan ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: "Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN." Ayat ini menjadi kontroversi dikalangan para sekolah theologia karena kelompok yang satu menganggap itu hanya gambaran saja tetapi kelompok yang lain mengatakan itu merupakan realitas. Harus diakui bahwa Tuhan menyuruh Hosea untuk melakukan perkawinan dengan jodoh yang di pilih olehNya sebagai lambang atau gambaran keadaan Israel tetapi harus Hosea harus terlebih dahulu mengawini wanita itu, hamil dan memiliki anak. Sesudah bukti ketaatan dari Hosea ditunjukkan maka Allah baru memakainya sebagai lambang yang riil bagi umat Israel!
Mengapa Tuhan menentukan jodoh Hosea? Apakah Hosea kehilangan hak pilihnya? Tidak sebab Hosea telah menyerahkan kehendak bebasnya kepada Tuhan untuk dipakai sebagai alatNya. Tuhan menghargai kebebasan yang telah diserahkan kepadaNya dan penentuan Tuhan tentang jodoh Hosea adalah yang terbaik bagi Tuhan! Dan Hoseapun melakukan sepenuhnya jodoh yang diberikan oleh Tuhan terebut. Jika seseorang mau menyerahkan kepentingan hidupnya kepada Tuhan Ia dapat mengaturnya yang terbaik menurut pemandanganNya walaupun belum tentu nampak baik bagi pemandangan manusia. Manusia masih dapat menolak atau menerima pemberianNya. Hosea bisa menolak pemberian jodoh dari Tuhan sebab secara manusia sangat tidak layak mengawini seorang pelacur. Apalagi dilihat dari jabatannya sebagai seorang nabi yang sebagai teladan bagi masyarakat luas dan generasi mendatang. Namun demi kepentinganNya Hosea rela menanggalkan kenikmatan dirinya sendiri!

TUHAN BUNGKAM TERHADAP PERSOALAN JODOH???
Bila dikaji lebih jauh sebenarnya Tuhan memiliki kepentingan yang sangat vital untuk nenek moyang Israel. Tuhan seharusnya mengatakan kepada Abraham siapa jodoh Ishak dan Yakub yang merupakan tokoh penting dalam sejarah Israel dan umat yang percaya. Sekalipun Abraham tidak kurang mendengar suara Tuhan maka untuk persoalan jodoh anak dan cucunya Tuhan tidak berbicara sama sekali. Abraham harus berusaha melalui bujangnya untuk mendapatkan jodoh anaknya. Mengingat Abraham memiliki hati yang selalu dekat dengan Tuhan maka Abraham memiliki cara yang dapat dicontoh dalam memilih jodoh untuk anakNya yang dapat diteladani oleh orang percaya. Perlu diingat bahwa Tuhan tidak mendetikte tetapi Abraham sendiri memberikan syarat-syarat yang harus dilakukan oleh bujangnya. Dalam Perjanjian Lama (Kej. 24) merupakan contoh pengalaman Abraham mencarikan jodoh untuk Ishak anakNya:
1. Syarat utama jodoh yang harus dipilih untuk anaknya tidak boleh dari negeri Kanaan. Kejadian 24:3 menyatakan supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam. Ini merupakan gambaran bahwa anak Tuhan tidak boleh mengambil jodoh dari orang yang tidak percaya. Paulus dengan jelas menyatakan bahwa Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (2 Korintus 6:14). Dari syarat pertama yang diberikan tersebut maka anak Tuhan tidak boleh juga berpindah imannya dan mengikuti agama lain demi jodohnya (Bdk kej 24: 4,6)
2. Dalam rangka pemilihan tersebut harus selalu berdoa dan meminta petunjuk kepada Tuhan baik sebelum mengambil keputusan atau sesudah mengambil keputusan. Kejadian 24:21 Dan orang itu mengamat-amatinya dengan berdiam diri untuk mengetahui apakah TUHAN membuat perjalanannya berhasil atau tidak (bdk ayat 14,26,27)
3. Syarat yang diberikan Tuhan juga mengacu kepada 3 b (Bibit, bobot, Bebet) Hal pertama bibit tersebut mengacu kepada benih. Ribkah jelas memiliki benih orang-orang yang jelas dapat dilihat dari garis keturunan yang benar. Kejadian 24:15 Sebelum ia selesai berkata, maka datanglah Ribka, yang lahir bagi Betuel, anak laki-laki Milka, isteri Nahor, saudara Abraham; buyungnya dibawanya di atas bahunya. Dari ayat ini maka dapat diketahui jati diri keturunan dari Rakhel bukan dari orang yang yang tidak jelas identitas dan imannya tetapi merupakan keluarga besar Abraham. Untuk bibit yakni benihnya sudah terpenuhi!
4. Hal yang kedua menyangkut bebet menyangkut kwalitas, etos kerja, performance, face dan segala sesuatu yang menyangkut kwalitas. Kejadian 24:16 Anak gadis itu sangat cantik parasnya, seorang perawan, belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; ia turun ke mata air itu dan mengisi buyungnya, lalu kembali naik.dilihat dari segi kwalitas maka pilihan bujang Abraham tidak salah sebab wanita ini bukan wanita rusak dalam pergaulan sebab ditemukan bahwa ia menjaga kesuciannya.
5. Hal ketiga bobot menyangkut persoalan property, harta benda dan kepemilikan. Rachel bukan dari keluarga miskin Kejadian 24:25 Lagi kata gadis itu: "Baik jerami, baik makanan unta banyak pada kami, tempat bermalampun ada." Untuk ukuran bobot maka tidak diragukan bahwa Rakhel dari keluarga yang cukup kaya sehingga memenuhi standar kehidupan.
Dari kisah pemilihan jodoh untuk Ishak maka peran aktif manusia sangat mendominir. Tuhan menggerakkan segala sesuatu supaya hamba Abraham dapat menemukan jodoh yang dari Tuhan.

CARA KERJA ALLAH
Tuhan memiliki kepentingan dalam pernikahan anak-anakNya. Tujuannya agar pernikahan orang percaya memiliki kebahagiaan yang prima. Ia memasang rambu-rambu dalam memilih jodoh, melanggarnya itu berarti malapetaka. Simson sebagai nazir Allah seharusnya menempatkan hukum Allah sebagai standar dalam pemilihan jodohnya, namun ia tidak melakukan hal tersebut sebagai akibatnya Allah tidak maksimal dalam memakai umat pilihanNya.
Hakim-hakim 14:3,4 menyatakan: Tetapi ayahnya dan ibunya berkata kepadanya: "Tidak adakah di antara anak-anak perempuan, sanak saudaramu atau di antara seluruh bangsa kita seorang perempuan, sehingga engkau pergi mengambil isteri dari orang Filistin, orang-orang yang tidak bersunat itu?" Tetapi jawab Simson kepada ayahnya :Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai." Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada TUHAN asalnya: sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada masa itu orang Filistin menguasai orang Israel. Bahkan bila sudah menikahpun namun baru mengerti kehendak Allah maka Allah sendiri yang membuat “gara-gara” atau “keruwetan” dalam berumah tangga sehingga tergenapi rencana Allah.
Abraham sudah mendengar secara langsung bahwa ia akan memiliki anak dari Sara tetapi karena ia mendengar perkataan istrinya dan memilih Hagar seorang budak yang dianggap mempercepat rencana Tuhan maka Allah mengizinkan bukan menghendaki untuk menghampiri Hagar (konkubinat). Hal tersebut dikarenakan ketika kecenderungan hati Abraham sudah mengarah kepada kepentingan atau nafsu pribadi.
Dalam perkembangan selanjutnya ketika dilihat bahwa anak Hagar dianggap menghalangi rencana Allah (sebab Ishak sudah lahir) Allah sendiri mengizinkan Sarah untuk diusirnya. Kejadian 21:10-12 Berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak." Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. (bdk Gal. 4:30).
Setiap orang harus memahami bahwa dirinyalah yang berusaha menentukan pasangan hidupnya, tentu yang sesuai sesuai dengan kehendak Tuhan. Adapun acuannya adalah Firman Allah. Seseorang tidak bisa berdiam diri hanya berdoa tanpa menjaga penampilan dan menunggu Tuhan mengirimkan jodohnya. Orang perlu bergaul, berdandan dan memiliki rasa simpati terhadap lawan jenisnya. Jika seorang bergaul dalam lingkungan gereja dengan benar maka dapat dipastikan ia akan memperoleh jodohnya dari dalam gereja tersebut. Sedangkan jika seseorang bergaul dengan orang dunia maka ia akan memperoleh dari sumber dunia juga!

Kepastian akan jodoh yang dari Tuhan itu akan terungkap jika seseorang berada dalam kehendakNya. Allah memang tahu tetapi takdirnya atau lebih tepat rencanaNya semula Allah sanggup menuntun kepada seseorang untuk menemukan jodohnya yang sesuai dengan kriteria Illahi. Untuk hal ini seseorang harus berusaha hidup bergaul erat dengan Tuhan, sampai ia benar-benar yakin akan pasangannya. Keaktifan ini juga menjauhkan kesalahan yang fatal dalam perceraian kelak, sebab pemilihan yang dilandasi ‘konfirmasi yang akurat dengan Firman Tuhan akan mendatangkan sukacita dalam perkawinan.
Setiap orang harus menyadari bahwa pemutusan pertunangan memiliki penderitaan ringan dibanding perceraian yang menyakitkan! Bila seseorang menikah dengan cara dan pilihannya sendiri tanpa konfirmasi dari Tuhan maka dapat dipastikan ia akan mengalami penderitaan “neraka dalam rumah tangga”. Namun bagaimana bagi mereka yang sudah terlanjur menikah dan serasa bukan jodohnya? Apakah orang tersebut harus menceraikan isterinya dan berkelana mencari jodohnya yang sebenarnya? Tidak demikian! Allah sanggup memberikan keharmonisan rumah tangga, sehingga rumah tangga seseorang merasakan bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. Tidak semua pernikahan yang awalnya yakin bahwa mereka merupakan pasangan yang tepat, akan selalu berada dalam atmosfer kebahagiaan. Sebab pernikahan bukan dilahirkan begitu saja, tetapi dikerjakan, diusahakan, perlu penyesuaian diri dan perjuangan.
Setiap orang harus juga menyadari bahwa perkawinan bukan saja menyangkut hubungan sex saja tetapi menyangkut berbagai macam aspek yang perlu dicukupi. Seseorang tidak hanya harus dipuaskan di bidang biologis tetapi juga dibidang yang lain, baik ekonomi, jiwani, komunikasi, dll. Jika seseorang hanya terfokus kepada satu sisi saja, dan mengabaikan yang lain, maka perkawinan akan mengalami kegagalan. Jika seseorang terfokus soal ekonomi, maka jika ia mengalami kemiskinan maka ia akan mengatakan gagal total. Dalam memilih jodoh seseorang perlu menyadari betapa ia harus memperhatikan berbagai macam segi. Cinta itu tidak buta tetapi justru harus membuka mata lebar-lebar.
Hikmat yang dimiliki Salomopun tidak menjamin ia berhasil dalam perkawinannya. Salomo mengarahkan hatinya hanya kepuasan lahiriah “sex’ saja sehingga masa tuanya ia memiliki kesimpulan bahwa apa yang ia raih selama ini segala sesuatunya sia-sia. Salomo tidak dapat berbuat banyak untuk Tuhannya ketika istri-istri yang ada disampingnya menjerat dengan berbagai macam dewa-dewi sesembahan mereka. Tetapi setiap anak Tuhan memiliki hikmat yang lebih dari Salomo yakni Roh Kudus yang mampu menghantarkan seseorang untuk memperoleh yang terbaik yang Tuhan siapkan demi rencanaNya!

Oleh: Pst. Wenas, gembala GBI Trinity, Surabaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar